Minggu, 24 Mei 2015

Pemuda, Harapan Islam Dalam Menghadapi Era Globalisasi


Seiring berkembangnya zaman yang semakin maju yang biasa disebut era Globalisasi. Era yang menghadirkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan. Era  yang mengubah tatanan kehidupan manusia dari tradisional menuju modern. Era dimana segala sesuatu dapat dilakukan dan diperoleh secara instan. Pada intinya era globalisasi adalah era yang semakin memanjakan manusia dalam mengerjakan segala aktivitas kehidupannya. Disatu sisi era ini membawa dampak positif misalnya dalam hal komunikasi, pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain dapat diterima orang lain tersebut hanya dalam hitungan menit bahkan detik tanpa mengenal jarak dan waktu.

Disisi lain era globalisasi juga membawa dampak negatif. Salah satu contohnya nilai sosial dan hubungan antar sesama manusia semakin turun. Memang dengan komunikasi yang semakin canggih dapat mendekatkan yang jauh, namun terkadang juga menjauhkan yang dekat. Era globalisasi seakan meninabobokan manusia dalam kenyamanan dengan berbagai teknologinya.

Di negeri ini, era globalisasi identik dengan era yang membuka pintu lebar-lebar masuknya budaya asing yang membuat tatanan hidup mereka cenderung mirip orang asing daripada nenek moyangnya. Akibat dari terbukanya pintu dan tanpa ada filter yang kuat, membawa suatu virus ganas. Virus yang lebih dikenal dengan F4(Food, Fun, Fashion dan Film) dapat menyerang dan melumpuhkan kepribadian orang-orang di negeri ini khususnya pemuda. Pertama Food, realita dilapangan menunjukan orang di negeri ini lebih bangga ketika makan Steak, Pizza, Burger dan sejenisnya daripada makan pecel, klepon dan makanan tradisional lainnya. Kedua Fun, banyak pemuda yang lebih senang tongkrongan sambil gitaran atau pacaran sana sini daripada belajar. Hal ini terjadi karena doktrin-doktrin negatif yang masuk ke kepala mereka akibat semakin majunya teknologi. Ketika kita flashback ke beberapa puluh tahun yang lalu betapa luar biasanya pemuda pada saat itu, walaupun hanya dengan teknologi seadanya namun tak menjadikan mereka bermalas-malasan dan bersenang-senang justru hal tersebut yang menyulut semangat mereka untuk belajar agar dapat merubah kehidupannya kearah yang lebih baik. Ketiga Fashion, fashion atau penampilan tak luput dari pengaruh barat. Pakaian ketat, rok mini, gaya rambut acak-acakan menggeser kearifan dan kesantunan budaya lokal. Mereka menganggap itu lebih keren dan stylis daripada budaya lokal yang dianggap norak dan ketinggalan jaman. Keempat Film, akhir-akhir ini kita sering melihat film-film bergenre horor namun diselingi adegan-adegan sensualitas. Selain film tersebut, dikalangan pemuda banyak beredar video-video yang tak layak mereka tonton. hal itu seakan mendukung pikiran liberal pemuda-pemuda dalam berimajinasi sehingga tak sedikit pikiran liberal tersebut yang diinternalisasikan dan akhirnya banyak terjadi sex bebas, hamil diusia sekolah dan sebagainya. Bahayanya virus F4 tidak hanya menjangkit pemuda biasa saja tapi pemuda islam juga tertular ganasnya virus ini.

Sudah saatnya pemuda islam bangun dari ninabobok dampak globalisasi. Sudah saatnya pula bangkit dan mencari serta merebut setiap peluang yang ada untuk mengembalikan kejayaan islam di era globalisasi. Dengan dampak-dampak globalisasi itu hendaknya tidak menghalangi pemuda-pemuda islam untuk bergerak. Bergerak disini bukan berarti menolak atau pun memerangi era globalisasi tetapi bagaimana pemuda-pemuda islam mampu menempatkan dirinya dan mampu mengambil peran penting dalam era ini. Sebagai pemuda islam, jangan menutup diri terhadap perkembangan jaman. Tetapi hendaknya mempunyai prinsip seperti prinsip orang jepang, “ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru” dan tentunya yang diambil itu yang sesuai syariat tanpa melanggar ketentuan Alqur’an maupun hadits. Dengan prinsip tersebut harapannya dapat mengubah mindset orang awam yang beranggapan bahwa islam itu konotasinya kuno, bodoh dan ketinggalan jaman berubah menjadi lebih berfikir positif terhadap islam.

Pemuda islam juga harus membuka diri terhadap perkembangan teknologi yang semakin canggih artinya pemuda islam mempelajarinya atau bahkan menciptakan teknologi baru yang lebih canggih. Karena Alloh tidak hanya menyuruh umatnya untuk belajar mengenai islam saja namun juga untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Dalam hadits Rosululloh Bersabda, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina” (HR. Ibnu Abdil). Padahal waktu itu negeri cina bukanlah negeri yang mayoritas islam sehingga dari hadits tersebut dapat diartikan bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk belajar segala ilmu selama masih dalam koridor syariat. Dengan adanya kemauan belajar dan sifat ulet serta pantang menyerah dalam belajar akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim di era modern.

Selain itu, Pemuda islam dapat memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dan dakwah islam. Bila menelisik lebih jauh tentang kebiasaan mayoritas pemuda termasuk pemuda islam. Mereka seakan mempunyai satu dunia baru yakni dunia maya. Dunia yang membuat mereka nyaman dan leluasa untuk berekspresi tanpa ada batasan. Walaupun belum ada lembaga survey yang memberikan persentase pemuda negeri ini yang punya akun facebook maupun twitter. Tetapi melihat realita yang ada, mayoritas sudah mempunyai akun facebook atau twitter. Pemuda islam dapat mengambil perannya sebagai dai dengan menjadikan sosial media itu sebagai media dakwah sehingga akun tersebut membawa kebermanfaatan baik bagi dirinya maupun orang lain.

Dibidang ekonomi, pemuda islam dapat menerapkan muamalah sesuai syariat islam tanpa ada riba dalam setiap transaksi yang dilakukan. Fakta telah memperlihatkan bahwa sistem ekonomi yang diterapkan bangsa-bangsa barat tidak mampu menghadapi krisis global. Tetapi hanya sistem yang sesuai syariat islam yang mampu bertahan. Ini membuktikan bahwa sistem ekonomi yang dibangun dan dikembangkan sesuai syariat islam mampu menghadapi era globalisasi. Sistem ekonomi ini bila diterapkan dan ditekuni maka bukan tidak mungkin negeri-negeri islam yang masih miskin dapat sejajar dengan negeri-negeri kaya.
Dibidang politik, sistem kapitalis dan liberalis yang diterapkan bangsa-bangsa barat secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan pemuda islam. Sistem-sistem itu membuat pemuda cenderung berprilaku liar dan ternyamankan oleh sistem sehingga nilai solidaritas dalam dirinya menurun. Sejarah mencatat dimana pemerintahan dengan sistem kekhalifahan mampu menaungi hampir 2/3 dunia dengan kedamaian dan ketentraman dibawah naungan panji islam. Keimanan dan ketaqwaanlah yang menjadi rahasia mereka mencapai kejayaan. Peran pemuda islam disini adalah menanamkan nilai-nilai kekhalifahan kepada  pemimpin atau setidaknya sebagai generasi yang akan memegang pimpinan selanjutnya sudah mempersiapkan diri dan membekali diri sebaik-baiknya sehingga kedamaian dibawah naungan islam kembali terjadi di era globalisasi.

Peran-peran tersebut dapat direalisasikan manakala pemuda islam mempunyai pondasi yang kuat dan kokoh agar tujuan mulia itu tercapai bukan malah terbawa arus negatif globalisasi. Setidaknya ada 4 hal sebagai pondasi tersebut, yaitu:

1.      Tauhid yang kuat
Tauhid yang kuat akan mendorong seseorang berhati-hati melakukan sesuatu khususnya perbuatan negatif. Dengan adanya tauhid yang kuat perilaku akan selalu terjaga karena setiap akan melakukan sesuatu selalu ada pertimbangan apakah yang akan dilakukan nantinya diridhoi Alloh atau tidak. Sehingga menimbulkan output perbuatan-perbuatan yang baik karena ada kontrol dari ketauhidan yang kuat.

2.      Pemahaman agama yang kuat
Ilmu agama adalah salah satu podasi dalam mengarungi hidup yang berkah. Tanpa agama hidup seseorang akan kacau dan tak terarah. Dalam hal ini, bukan hanya pemahaman dan pengetahuan tentang islam yang kuat namun juga mampu menerapkannya. Aqidah yang kuat, akhlaq yang baik dan istiqomah dalam beribadah wajib maupun sunnah yang membentengi orang dari berbagai ancaman yang dapat membahayakannya.

3.      Ilmu pengetahuan yang lebih
Ilmu pengetahuan yang lebih akan membantu pemuda islam dalam menjalankan peranya sebagai perubah peradaban. Tanpa ilmu bagaimana mungkin ia dapat melakukan perubahan. Tentunya seorang yang ingin merubah sistem pemerintahan haruslah mengerti dan memahami ilmu tentang pemerintahan. Tanpa pemahaman dan pengetahuan perubahan yang akan dilakukan justru akan memperburuk sistem pemerintahan. Pemuda islam tidak hanya dituntut untuk menekuni satu bidang ilmu saja namun juga menekuni berbagai bidang. Sehingga dengan bekal ilmu yang cukup ia siap melakukan perubahan dimana saja.

4.      Niat tulus dan komitmen
Setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Sebagai agent of change sudah menjadi keharusan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang didasari dengan niat semata-mata karena Alloh untuk merubah dari tatanan yang buruk kearah yang baik. Niat yang benar akan menghadirkan komitmen yang kuat sehingga mampu menangkis segala ancaman-ancaman yang mencoba menghadang. Selain itu juga menghadirkan Ghiroh atau semangat pantang menyerah untuk berjuang menjalankan peran dalam menghadapi tantangan global.

            Pada dasarnya di era globalisasi, pemuda islam memikul suatu beban berat yakni merubah tatanan-tatanan kehidupan yang buruk kearah yang lebih baik untuk segala aspek kehidupan. Memang itu sangat membutuhkan perjuangan yang super ekstra keras agar terealisasi menjadi nyata. Man Jadda wa Jada Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Sejarah sudah memberi teladan betapa luar biasa perjuangan yang dilakukan Muhammad Al-fatih untuk melakukan perubahan yakni dengan menjalankan kapal besar dilautan gurun. Selain itu ada Shalahuddin Al-Ayyubi dengan usaha dan perjuangannya yang tak kalah luar biasa dengan Al-Fatih dalam menaklukan Yerussalem. Itu hanya dua contoh dimana seorang diusia mudanya mampu mengoptimalkan peluang untuk merubah peradaban.

            Kini tinggal kita sebagai salah satu pemuda islam ingin menempatkan posisi dimana, menjadi aktor utama perubahan, pemeran pendukung atau bahkan yang lebih ironis hanya menjadi penonton. Pertanyaan tersebut hanya kita yang bisa menjawab dan bukan hanya sekedar jawaban dari mulut tapi juga ada realisasinya. Mereka saja yang pada jaman teknologi masih sederhana dapat mengambil peluang dan berperan sebagai agent of change, mengapa kita tidak?  Mumpung masih muda, semangat masih membara, inovasi dan kreativitas terus ada dan didukung teknologi yang luar biasa maka marilah bersama rapatkan barisan untuk menjadi Al-Fatih atau Al-Ayubi era modern yang cerdas mengambil setiap peluang dan menciptakan perubahan. Sudah bukan saatnya pula berselisih sesama muslim tapi saatnya bersatu membentuk kesatuan padu untuk menghadapi segala bentuk ancaman terhadap islam. Sehingga umat ini tetap menyadang gelar Khairu ummah di bumi Alloh SWT.

Read more…